Total Pageviews

Friday, May 4, 2012

Dear John

Dear John,
kamu tahu? Ini pertama kalinya aku menulis surat padamu sejak terakhir kita bertemu, itu sudah lama sekali. Tapi aku tidak mungkin lupa awal kita berjumpa.
Kita pertama bertemu di tempat les musik. Kamu bermain piano saat itu, dan aku sedang mencoba "bolos" les biola. Ketika mendengar dentingan piano yang kamu mainkan, aku seakan terpanggil, terpanggil untuk menghampirimu. Dari pintu yang sedikit terbuka, aku melihat sosokmu yang sedang bermain piano. Sangat elegant, sungguh. Saat kau mengakhiri permainanmu, aku tanpa sadar masuk dan bertepuk tangan. Mukamu mendadak merah. Aku pun begitu. Kita berkenalan setelahnya.Dan aku terkejut, ketika tahu bahwa kita satu sekolah, satu kelas, bahkan secara kebetulan kita satu ekskul di tahun ajaran yang akan dimulai minggu depan.
Aku mengatakan, semua hal tentang aku dan kamu yang saling berhubungan adalah kebetulan, dan kamu selalu menegurku. Kau katakan ini takdir. Selama di SMA aku senang sekali mengenalmu. Kamu membuat kehidupanku lebih bersinar dibanding sebelumnya. Rambutmu yang kecoklatan, kulitmu yang putih, jari-jarimu yang lentik, aku suka itu. Tapi, yang paling kusukai adalah sosokmu ketika bermain piano.
Kamu jarang ikut kegiatan olahraga, kamu bilang kamu tidak bisa olahraga. Kamu bilang kamu orang yang selalu gagal dalam berolahraga. Tapi semua mata menatapmu, terdiam ketika melihatmu bermain basket. Kamu tidak pernah bermain untuk waktu yang panjang. Tapi kehadiranmu selalu dinanti oleh banyak orang, khususnya wanita.
Kamu tidak percaya ketika aku mengatakan kamu mempunyai banyak penggemar, katamu karena kamu bukan orang populer dan jarang berbicara dengan orang lain kecuali aku. Tapi kamu tidak dapat menjelaskan mengapa banyak wanita yang menembakmu, dan ketika Valentine datang, mereka berlomba-lomba menjadikan kamu sebagai kencan mereka.
Aku masih ingat, hanya kamu dan aku murid yang sungguh-sungguh mengikuti kegiatan ekskul di seni musik. Kita sering berduet. Menciptakan lagu bersama. Membuat impian bersama. Membuat janji bersama. Ya, kita berjanji akan menjadi pemain musik yang terkenal kan? Kita berjanji untuk menciptakan konser bersama keliling dunia, terutama Amerika. Kamu masih ingat kan?
Kamu tahu, aku sedih dan tidak berhenti menangis ketika kamu pergi meninggalkanku tanpa memberitahu apa pun. Katamu, kamu mau melanjutkan sekolah keluar negeri. Aku masih ingat bagaimana cerita pastinya.
Waktu itu musim dingin pertengahan semester 1. Kita kelas 3, saat-saat terakhir di SMA. Kamu mulai jarang hadir sekolah, juga jarang hadir les. Tapi bukan berarti kita jarang bertemu. Aku sering mengantarkan catatan ke rumahmu. Dan harus kuakui aku senang sekali setiap aku ke rumahmu. Tidak terlalu besar namun terkesan mewah. Di ruang utama ada piano mu. Warnanya putih dan cukup besar. Kamu bilang kamu selalu memakai piano putih setiap bermain piano. Katamu, piano putih itu selalu memikat. Cukup memberiku penjelasan di mana pun kamu bermain piano pasti kamu memainkan yang berwarna putih.
Pada kali kesekian aku ke rumahmu, aku masih inngat raut mukamu. Kamu terlihat sangat sedih saat itu. Kamu bilang padaku waktu keberangkatanmu keluar negeri semakin dekat. Dan kamu mengeluarkan isi hatimu. Kau bilang kau suka padaku sejak kali pertama kita bertemu. Kau bilang kau benar-benar mencintaiku. Katamu kamu baru dapat mengatakan itu padaku di hari-hari terakhir kamu bersamaku. Kamu takut suatu saat nanti aku kecewa mendengar isi hatimu. Aku ceritakan padamu saat itu. Aku juga mencintaimu. Dan aku tidak akan menyesali perasaanku padamu. Kita tidak benar-benar menjadi sepasang kekasih saat itu. Karena kamu hanya mengungkapkan perasaanmu dan aku pun begitu. Meski saat itu aku sebenarnya berharap kamu mau menjadikan aku kekasihmu.
Saat aku mau pulang, kau genggam tanganku dan enggan melepaskan. Aku pun begitu, aku mendapat firasat aku tidak akan berjumpa denganmu jika kulepaskan tanganmu. Kau berbisik ditelingaku. "Apa pun yang terjadi, ingatlah, aku akan selalu ada di sisimu" samar-samar kamu seakan meminta maaf padaku, meski aku tidak tahu mengapa kamu minta maaf padaku.
Lalu, kamu bilang, kamu ingin kita berduet di hari terakhir kamu di sekolah bersamaku. Tapi ketika hari itu datang, kamu tidak muncul. Aku ingin membatalkan konser itu tapi aku sudah berjanji padamu sebelumnya. Kalaupun kamu tidak datang, aku pasti tetap menjalankan konser itu. Ketika konser aku sering menatap piano putih yang berada di belakangku. Berharap kalau-kalau kau muncul. Tapi sampai akhir acara kamu tidak juga datang.
Pulangnya aku ke rumahmu, dan rumahmu sangat sepi. Tidak ada orang di sana. Aku membuka hanphoneku dan tak ada satu pun pesan darimu. Hari kemudianlah aku tahu, kamu sudah pergi. Tapi kamu berbohong padaku. Kamu tidak pergi ke luar negeri. Kamu benar-benar sudah pergi. Kamu bohong padaku tentang olahraga, dari ibumu akhirnya kutahu kamu tidak bisa berolahraga karena jantungmu lemah. Kamu pergi untuk selamanya, meninggalkan aku sendiri.
Awalnya aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku sedih, kecewa, marah. Semua perasaan itu berkumpul menjadi satu. Dan air mataku tidak dapat berhenti mengalir. Seminggu kemudian ibumu datang kepadaku, memberiku surat yang kau tulis di hari terakhirmu di dunia. Tangisku pecah ketika aku membaca surat itu. Rose, Amelyn, dan Lily berusaha menenangkanku, tapi tangisku semakin menjadi. Taukah kamu aku benar-benar ingin bertemu?
Itu kejadian 30 tahun yang lalu. Aku telah menikah dengan seorang pembalap. Punya dua anak. Dan, sekarang aku sudah menjadi pemain biola yang terkenal. Aku menggelar konser dibanyak tempat, keliling dunia. Tapi, kamu tau, setiap aku konser, aku selalu menyediakan piano putih. Entah mengapa, aku seakan merasakan hadirmu. Mengawasiku dari piano itu. Seandainya kamu masih ada, aku yakin, kamu akan memainkan piano itu untukku.
Ingin rasanya aku mengirim surat ini padamu. Aku ingin bertemu denganmu. Mencurahkan semua perasaanku yang kali ini aku akan ungkap sejujur-jujurnya. Tapi tidak mungkin kan? Tapi aku tahu kau pasti membaca surat ini karena kau bilang kau akan selalu ada di sisiku.
Suatu saat ketika aku sudah sangat tua, dan Tuhan memanggilku, mungkin kita bisa bertemu lagi di sana. Sampai bertemu lagi, John....
***


creation by : Pradana Wulandari
tittle : Dear, John
genre : romance
category : Teen
Type : Short Story




Dec, 8 2011

No comments:

Post a Comment